Strategi itu Bernama Inovasi

Kegagalan pada perusahaan sebenarnya bukan karena teknologi yang mereka gunakan, namun pada konsep inovasi yang dapat diwujudkan. Ini karena inovasi sendiri sangat bergantung dari sumber daya manusia dan tidak terbatas pada penggunaan teknologi.

Text and image block


 

Oleh :Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services - PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 15 Tahun VI, 12-18 Juni 2017, p 82

Meningkatnya persaingan antar organisasi maupun perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen memaksa mereka berpikir fungsi “dualisme”, yaitu bekerja secara efisien untuk kelancaran proses hari ini, sekaligus melakukan inovasi secara efektif untuk masa depan (Katz, 2010).

Tujuannya adalah mengelola kapabilitas jangka panjang perusahaan dalam mengembangkan dan mengomersialkan produk/layanan yang memberi nilai tambah bagi konsumen. Selain itu, perusahaan dituntut untuk memperoleh keuntungan yang menjanjikan.

Untuk itu, organisasi harus memahami dan memelajari dinamika inovasi yang berkelanjutan (sustain) maupun inovasi yang mengganggu (disruptive) (Paap, 2011). Inovasi yang berkelanjutan mampu mengantisipasi perubahan dalam jangka panjang. Sementara itu, inovasi yang mengganggu merupakan inovasi yang muncul seketika dan hasilnya dapat menggantikan peran dari teknologi/produk yang sudah ada beberapa tahun bahkan puluhan tahun sebelumnya, namun biasanya hanya muncul sesekali.

Inovasi berkelanjutan baik untuk mendukung kelancaran proses hari ini, dan inovasi disruptive baik untuk mengantisipasi perubahan (test the water) sebelum organisasi meluncurkan produk/layanan andalannya. Bagaimanapun, keduanya harus dijalankan seimbang dan bersamaan.

Untuk menerapkan kedua inovasi tadi, diperlukan nilai dan budaya organisasi yang mampu mendorong setiap karyawan berinovasi dan berkreasi. Kreasi yang dihasilkan karyawan bisa berupa inovasi proses, inovasi produk, inovasi pemasaran, atau yang lainnya.

Tidak sedikit perusahaan yang sudah mantap dan disegani malah kehilangan posisi di pasarnya akibat munculnya inovasi disruptive. Contohnya, Sony yang pada 1980-an berhasil dengan produksi walkman  dengan seketika ‘diganggu’ dengan inovasi ipod oleh Apple. Tidak lama, inovasi ipod disaingi oleh smartphone. Philips di Belanda yang berhasil dengan produk elektronik industri, elektronik rumah tangga, dan sistem medis  pada  1980-an juga terlambat mengantisipasi perubahan dan kalah bersaing dengan Samsung dan General Electric, sehingga pada 2013 harus menutup beberapa produk elektronik berbasis rumah tangga.

Penelitian oleh Golder pada 2013 menunjukkan bahwa tingkat kegagalan inovasi perusahaan yang disegani di industrinya sebesar 50%. Lebih lanjut, hanya sekitar durasi selama lima tahun saja hasil inovasi membuat perusahaan menjadi market leader. Hal ini menunjukkan bahwa basis dan keunggulan kompetitif dari persaingan inovasi berubah dengan cepat. Organisasi harus mawas diri apakah inovasi yang ditempuhnya bersifat berkelanjutan atau hanya bersifat sementara (disruptive).

Inovasi bisa dikatakan gabungan dari keunggulan teknis perusahaan dengan informasi yang diperoleh dari pasar. Informasi ini menangkap keinginan dan harapan konsumen terhadap sebuah produk/layanan. Kemudian, informasi ini diterjemahkan menjadi produk/layanan oleh keterampilan teknis perusahaan. 

Kegagalan pada perusahaan sebenarnya bukan karena teknologi yang mereka gunakan, namun pada konsep inovasi yang dapat diwujudkan. Ini karena inovasi sendiri sangat bergantung dari sumber daya manusia dan tidak terbatas pada penggunaan teknologi.

Perubahan inilah yang otomatis akan membawa organisasi/perusahaan menghasilkan sesuatu yang baru dan unik, sehingga dinilai bermanfaat bagi konsumen. Akhirnya akan meningkatkan loyalitas konsumen dan menarik konsumen baru.

Misalya saja, Wall Mart dan Toyota. Wall Mart menerapkan inovasi cross dock, yakni distribusi barang dari pemasok ke gudang, kemudian dipilah menuju lokasi ritel Wall Mart tanpa pernah barang tersebut disimpan di gudang. Akibatnya, tingkat inventori rendah dan biaya operasional pun rendah.

Begitu juga dengan Toyota yang menerapkan sistem produksi just-in-time. Sistem ini tidak melakukan penambahan teknologi secara signifikan dibanding sistem produksi yang pernah ada. Toyota mampu menciptakan budaya kerja yang mengefisienkan sistem produksi.

Dengan demikian, inovasi untuk keberhasilan hari ini dan masa depan membutuhkan kepemimpinan, visi, strategi dan kebijakan organisasi yang jelas serta budaya kerja yang mendukung proses inovasi dengan alat bantunya berupa teknologi.



Share