Simulasi Pembelajaran Konsep Manajemen

Penerapan simulasi manajemen memiliki keunikan tersendiri, namun organisasi sebaiknya lebih bijaksana dalam mengembangkan sebuah simulasi, apakah ada kesamaan atau benchmark yang bisa diterapkan untuk konsumennya yang lain.

Text and image block



Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Program – PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di  SWA Online

Adalah Simulasi, sebuah replikasi atau visualisasi dari perilaku sebuah sistem yang terdiri dari seperangkat variabel yang menampilkan ciri utama dari sistem yang sebenarnya (Udin Syaefudin Sa’ud: 2005). Simulasi memungkinkan keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi secara nyata. Sejatinya simulasi merupakan bentuk penyederhanaan dari realitas dengan menggunakan beberapa asumsi. Faktor manusia sulit diwakilkan dalam simulasi, sehingga simulasi tidak 100% menggambarkan sistem yang riil, namun dapat mewakili sistem yang riil tersebut untuk kebutuhan pembelajaran manusia.

Begitu juga dalam pembelajaran sebuah konsep manajemen, penerapan simulasi manajemen memiliki keunikan tersendiri, namun organisasi sebaiknya lebih bijaksana dalam mengembangkan sebuah simulasi, apakah ada kesamaan atau benchmark yang bisa diterapkan untuk konsumennya yang lain. Tujuannya adalah simplifikasi penyusunan model dan kenyataan bahwa dalam beberapa hal ada kesamaan proses yang dilakukan oleh organisasi yang berbeda. Hal-hal yang berbeda dapat dipertimbangkan dalam faktor ‘asumsi’.

Beberapa contoh simulasi ini adalah: simulasi membuat produksi sebuah barang dengan memperkirakan biaya produksi dan berapa lama sebuah produk dapat dihasilkan; simulasi perhitungan investasi dapat memperkirakan keuntungan organisasi dan berapa lama modal investasi terbayarkan; simulasi evakuasi karyawan di dalam gedung perkantoran untuk memperkecil risiko keselamatan kerja, dan lain sebagainya.

Keuntungan dari menerapkan simulasi sebelum mengambil keputusan di dunia nyata adalah tidak ada risiko dari kesalahan pengambilan keputusan sehingga manusia dapat mengambil pelajaran dari setiap langkah sebelum keputusan di dunia nyata dilaksanakan. Sedangkan kerugiannya adalah, manusia harus mempersiapkan skenario ketika dalam dunia nyata terjadi hal-hal yang tidak diperhitungkan karena adanya asumsi-asumsi atau penyederhanaan kenyataan dalam simulasi.

Di banyak negara maju, perusahaan banyak bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mendesain simulasi ini. Simulasi dapat berupa alat permainan, bahkan sampai bentuk software. Tahap awal membutuhkan peneilitian yang mendalam mengenai sistem yang akan diwakili dalam simulasi, kemudian diteruskan tahap pengembangan. Tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pemerintah dan perusahaan bekerja sama mempersiapkan dana ini. Dampaknya adalah harga sebuah produk simulasi menjadi mahal.

Sayangnya, biaya penelitian di Indonesia rendah, sehingga konsep simulasi menjadi seadanya. Jika membeli dari luar negeri, harganya tentu mahal. Karena itu, Indonesia harus mulai menggalakkan riset supaya tidak kalah bersaing.

Berikut ini adalah langkah-langkah menyusun simulasi:

  1. Memformulasikan dengan matang tujuan penyusunan simulasi dan faktor-faktor yang secara siginifikan memengaruhi beroperasinya sebuah sistem manajemen.

  2. Analisa faktor-faktor yang tidak signifikan memengaruhi sistem manajemen, seberapa besar dampaknya jika faktor-faktor ini diabaikan atau diberi bobot pengaruh yang kecil, atau digabungkan dengan salah satu faktor yang signifikan pada nomor satu

  3. Menyusun persyaratan, misalnya: berapa lama sebuah proses dilakukan secara rata-rata, berapa standar deviasinya; apakah ada masa dimana proses melakukan pekerjaan berlebih, apakah ada masa dimana pekerjaan tidak banyak.

  4. Faktor keamanan manusia, barang, peralatan. Ketiga faktor ini Perlu kepastian keamanan dan keselamatan, terutama manusia. Pertimbangkan juga probabilitas kehilangan dan/atau kerusakan barang dan peralatan, serta perkiraan biaya risiko yang ditanggung.

  5. Hasil simulasi menggambarkan perkiraan sebuah model manajemen berjalan, bukan merupakan sebuah hasil final yang dapat diterapkan begitu saja tanpa adanya pertimbangan tak terduga. Jangan lupa untuk mengakomodir beberapa asumsi yang digunakan di awal pengembangan simulasi dalam mengambil keputusan.

  6. Beri ruang untuk perbaikan sistem simulasi di masa mendatang.

Bagaimanapun, bantuan simulasi sebelum organisasi mengambil keputusan sangatlah penting karena dapat memberikan gambaran akan dampak yang mungkin terjadi. Sehingga organisasi dapat memperkirakan keuntungan dan risiko yang mungkin dihadapi. Sebuah organisasi yang ingin menyusun simulasi harus tetap bijaksana dalam mengambil keputusan dan mempersiapkan penyimpangan yang mungkin terjadi tidak sesuai simulasi.



Share